Menengok Bagian Rem Angin Bus Pariwisata, Bagaimana Cara Kerjanya?

Bus adalah sebuah moda transportasi yang menjadi unggulan masyarakat untuk berpergian. Saking digemarinya sampai – sampai jenis armada tersebut kini bisa didapatkan melalui layanan sewa bus pariwisata.

Memang wajar jika kenyataannya demikian sebab untuk keperluan perjalanan menuju suatu tempat, kendaraan ini sanggup membawa banyak penumpang sekaligus. Jadi setiap kali ada rombongan yang ingin jalan – jalan mereka cukup menyewanya dari salah satu PO, dan urusan tranportasi pun sudah teratasi.

Ditinjau dari aspek keamanan serta keselamatan, bus pariwisata sebagai  kendaraan yang sanggup membawa beban yang sangat berat dilengkapi dengan sistem pengereman yang memadai. Terdapat rem utama dan rem angin. Kedua rem ini dipasang untuk memaksimalkan pengereman yang diperlukan oleh pengemudi.

Ngomong – ngomong soal pengereman, kali ini pembahasan kita akan mengupas seputar rem angin. Secara sederhana kami telah menyusun pemaparan terkait komponen pada sistem pengereman tersebut beserta cara kerjanya.

 

Komponen – Komponen Rem Angin

Jadi agar nantinya lebih mudah untuk menjelaskan cara kerjanya, ketahui dulu sejumlah komponen pada rangkaian sistem rem angin berikut ini.

1. Compressor Dan Air Tank

Compressor adalah komponen untuk menghasilkan tekanan udara. Dengan komponen inilah rem angin bisa punya kekuatan dalam memperlambat laju kendaraan. Untuk menghasilkan tekanan udara yang cukup,  komponen yang memanfaatkan tenaga dari mesin ini akan mengkompresi udara luar ke dalam tempat penyimpanan.

Compressor Dan Air Tank

Nah, tempat penyimpanan udara ini dinamakan air tank. Namun udara yang sudah terkumpul di dalamnya hanya bersifat sementara. Pasalnya udara ini memang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Selain sistem pengereman angin, udara pada tanki tersebut umumnya juga dipakai untuk sistem klakson terompet, dan beberapa sistem lainnya.

Nantinya setelah persediaan angin mulai habis secara otomatis alat kompresi akan mengisinya kembali. Sama halnya ketika komponen ini nonaktif dengan sendirinya bila udara terisi penuh. Jadi pada compressor terdapat regulator tekanan untuk mengetahui tingkat udara di dalam tank.

2. Komponen Konversi Brake Chamber

Sesuai dengan istilahnya, kompenen ini berguna untuk mengkonversikan tekanan udara menjadi daya gerak. Dengan begitu mekanisme pengereman pun dapat bekerja sebagai mana mestinya.

Komponen Konversi Brake Chamber

Komponen brake chamber terbentuk dari beberapa elemen penyusun, yakni meliputi slack adjuster, tuas, membrane, dan pegas diagragma.

Alat pengkonversi ini dapat disetting untuk mendapatkan hasil pengereman terbaik. Tentu saja setting tersebut tidak asal dibuat pakem,  tapi lebih tepatnya menyesuaikan kebutuhan.

Daya pengereman sendiri diatur berdasarkan kekuatan rem utama, dan beban yang akan dimuat kendaraan tersebut. Komponen ini pun secara keseluruhan mempengaruhi kinerja rem angin.

3. Kampas Rem

Tak ketinggalan kampas rem juga merupakan salah satu komponen penting di sistem rem angin. Fungsinya tentu sudah anda ketahui. Nah, yang mungkin belum anda ketahui adalah bahwa sistem pengereman pada bus dan kendaraan lainnya yang menerapkan rem angin ternyata berjenis rem tromol.

Kampas Rem

Jadi kampas rem yang dipasang pada tromol akan dihubungkan secara mekanis bersama brake chamber. Dengan demikian artinya tuas pada komponen konversi gaya tersebutlah yang menjadi lengan penggerak kampas saat rem bekerja.

4. Selang Udara

Terakhir terdapat komponen lain berupa selang udara. Selang ini dihubungkan dari air tank menuju brake chamber.

Melalui selang ini terjadi perpindahan udara ketika rem angin digunakan pengemudi. Barulah kemudian setelah udara mencapai komponen konversi tekanan udara pun berubah menjadi gaya gerak.

Selang Udara

Untuk menghindari kebocoran dan memastikan rem angin dapat bekerja dengan sempurna maka selang ini pun dibuat dari bahan karet dengan tambahan logam mengulir yang fleksibel.

 

Bagaimana Rem Angin Bekerja?

Secara berkala compressor akan terus – menerus mensuplai udara ke dalam air tank. Lebih tepatnya setiap kali tekanan udara pada tank turun ke titik 740 KPa, komponen kompresi akan aktif. Hingga kemudian pada batas tekanan 850 KPa, udara berlebih dalam wadah akan terbuang dan mengakibatkan compressor berhenti bekerja.

Pada tekanan yang sudah mencukupi, udara dari tank akan disalurkan lewat selang rem angin. Saat pengemudi menginjak pedal rem,  katup udara menuju chumber brake pun terbuka.

Selanjutnya tekanan udara yang didapatkan komponen tersebut pun berubah menjadi energi gerak sehingga tuas pun akan mempengaruhi kedudukan kampas rem jadi begesekan dengan mangkok tromol. Alhasil dari gaya gesek tersebut pun mengakibatkan laju kendaraan megalami perlambatan hingga akhirnya berhenti.